SAHABAT SETIA
Di malam cerah seorang gadis bernama Gaina sedang menatap langit. Terlihat bintang bertaburan ditemani kembang api menyambut tahun baru.
“ Ya Allah, semoga dengan tahun baru ini aq akan menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Aku ingin memeiliki teman yang setia”, Gaina meneteskan air mata merenungi doanya. “Kabulakanlah doaku, Ya Allah. Amiin ”, lalu ia pun mengakhiri doanya. Kemudian ia mewlihat jam di tangannya. Sepertinya sudah satu jam ia dududk di taman depan rumahnya.
Tiba-tiba ada suara kembang api yang menggelegar dan memencarkan nyala api menerangi malam yang gelap ini. Ternyata sekarang sudah jam 12 malam lewat. Gaina pun masuk ke dalam rumahnya. Di malam tahun baru ini ia sedih karena kedua orang tuanya sedang bisnis ke luar kota . Ia hanya tinggal bersama pembantunya, Bi Mirna.
* * * *
Pagi ini terlihat Bi Mirna sedang membuka jendela kamar Gaina. Bi Mirna heran karena tidak biasanya Gaina bangun waktu Subuh. Mungkin karena tahun baru kali ya? cepat-cepat Gaina sarapan pagi dan langsung menunggu angkot menju sekolahnya. Di sekolahnya ia terlihat sebagai anak yang periang, temnnya pun banyak. Gaina mempunya dua sahabat, Risa dan Auzy. Kalau teman-teman yang lain sering menyebut mereka bertiga 3 Angel’s.
“Gaina, selamat tahun baru ya!” sambut Risa dan Auzy kompak.
“Sama-sama” mereka pun langsung salaman semut ala 3 Angel’s. “Teman-teman, kalian akan setia jadi sahabatku kan ? Walaupun nanti kita akan terpisah, kalian adalah sahabat terbaikku”, kata Gaina.
“Iya donk! Setuju “, tambah Auzy.
“Janganlah berjalan di belakangku karena aku tidak akan memimipinmu. Jangan pula berjalan di depanku karena aku tidak akan mengikutimu. Bejalanlah di sampingku dan jadilah temanku”, ini dia, kata-kata indah Risa keluar juga.
“Dapat dari mana, Ris, kata-katamu itu? Bukan kamu banget gitu….”, ledek Auzy
“He he he he he, ngutip di Koran sih”, kata Risa sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.
“Huh, bisa aja kamu, Ris”, kata Auzy.
“Ngobrolnya jangan di sini donk! Banyak orang lewat, kan nggak enak? Mendingan di bawah pohon itu aja”, usul Gaina. Tanpa jawaban dari Risa dan Auzy, mereka langsung menuju tempat yag ditunjuk Gaina.
“Ga, kamu kok kelihatannya deket banget sama anak baru itu?”, Tanya Auzy mengawali obrolan mereka.
“ Iya nih. Lagi PDKT ya? kok nggak crita-crita sama kita sih?”, kata Risa ikut-ikutan tanya.
“Ah…kalian ini? Bawaannya curiga terus sama aku?”, jawab Gaina singkat, padat dan nggak jelas. Hwe he he he he.
“Terus?”, tanya Auzy semakin penasaran. Tapi emang dasarnya cerewet, dalam keadaan nggak penasaran juga tetep cerewet.
“Dia itu teman kecil aku”, Gaina memulai ceritanya. “Namanya Afdi. Dia aku anggap kayak kakakku sendiri, karena dia selalu melindungi aku. Tapi dia pindah ke luar kota ikut neneknya, karena rumahnya digusur waktu kelas tiga SD”. Gaina mulai teringat masa kecilnya. Dulu, di rumah ia selalu terlihat ceria ditemani Afdi. Tapi sejak mereka pisah, sekarang Gaina di rumah sering terlihat murung.
“Oh gitu ya? maaf ya kita dah bikin kamu sedih”, kata Risa sambil merangkulkan satu tangannya ke pundak Gaina.
“Nggak pa-pa kok. Itung-itung nostalgila. Eh nostalgia, maksudnya”, jawab Gaina dengan santainya.
“Bener nggak pa-pa nih?”, Tanya Auzy.
“I-Y-A! jelas?”. Risa dan auzy hanya mengangguk kompak. Tiba-tiba afdi sudah di depan mereka, lalu menyapa Gaina. Gaina pun mengenalkan Risa dan Auzy pada Afdi.
“Gaina, nanti kita pulang bareng ya!”, ajak Afdi. Dengan malu-malu Gaina hanya mengacungkan jempol sambil tersenyum simetris. Afdi lalu perfi setelah mendapat jawaban dari Gaina.
“Ga, Afdi cakep banget sih? Kenapa nggak kamu jadiin dia pacar aja?” , tanya Auzy si cerewet.
“Kalau gitu buat kamu aja deh”
“Katanya dia orang yang nggak mampu, kok gaya dan penampilannya keren gitu?”, tanya Risa.
“Dia sekarang emang beda. Coba deh nanti aku tanya”.
Sepulang sekolah ternyata Afdi sudah menunggu Gaina di depan pintu gerbang sekolah. “Maaf! Lama nunggu ya?”
“Nggak kok”, jawab afdi dingkat.
“Afdi, ngomong-ngomong sekarang kamu kok beda?”, yanya Gaina mengawali pembicaraan mereka sambil menunggu angkot menuju rumah mereka yang searah.
“Maksud kamu penampilanku?”. Gaina hanya mengangguk dan menggigit bibir bawahnya pelan. Ia takut kalu Afdi marah. Tapi yang terjadi…Afdi justru tersenyum.
“Gaina, sebenarnya aku ngajak pulang bareng karena aku ingin membicarakn suatu hal”
“Apa?”, Tanya Gaina penasaran sambil menengadahkan kepalanya melihat Afdi.
“Aku ingin kamu Bantu aku. Sepertinya aku nggak bisa berpenampilan keren kayak gini lagi”
“Kenapa?”
“Bisnisku hancur! Pelangganku lama-lama berkurang”
“Emangnya kamu bisnis apa? Wah masih kelas 3 SMP dah bisa bisnis. Hebat banget!”, kata Gaina kagum.
“Aku bisnis ini”, jawab Afdi sambil menjukkan 1 plastik narkoba jenis putaw.
“Apa?!”, Gaina tercekat. Ia melihat putaw itu dengan tajam. Matanya berkaca-kaca hingga jatuhlah airmata Gaina.gaina kecewa dengan apa yang dilakukan Afdi. Dengan kesal Gaina meningglkan Afdi. Namun Afdi mengejarnya.
“Gaina, maafkan aku. Aku tahu aku dah bikin kamu kecewa”, Afdi menjelaskan. Namun Gaina semakin terisak. “Aku terpaksa, Ga. Nggak ada yang bisa aku lakuin lagi”.
“Aku nggak bisa Bantu kamu, Di. Maaf banget. Tapi kamu harus keluar dari pekerjaan ini!”
“Nggak bisa, Ga. Kalau aku berhenti dari pekerjaan ini, nyawa yang jadi taruhannya. Atasanku nggak akn biarin aku meninggalkan pekerjaan ini”. Terdiam sesaat. “Aku tahu ini berbahaya. Tapi nasi telah menjadi bubur. Aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Sebagai sahabat terbaikku, kamu mau kan bantu aku jalani pekerjaan ini?”. Gaina hanya bisa terdiam. Mereka lalu berjalan menuju angkot.
Sampai turun dari angkot dan menuju gang mereka masih saling berdiaman. Setelah sampai pertigaan gang itu, mereka terpisah. Gaina belok kiri dan Afdi belok kanan menuju rumah masing-masing.
Ketika sampai di rumah, Gaina terbaring lesu. Ia belum percaya akan sesuatu yang baru saja ia ketahui. Tiba-tiba ia bangkit dan langsung ganti pakaian. Rupanya Gaina akan ke rumah Afdi. Setelah sampai depan pintu rumah Afdi, Gaina mengetok pintu. Pintu terbuka. “Gaina?”, Afdi kaget.
“Ya. aku mau bantu kamu Afdi”. Kemudian Afdi kembali masuk ke dalam rumahnya. Tidak sampai satu menit Afdi keluar dan membawa satu plastic putaw.
“Kasih ini sama orang yang ada di Jalan Mangga depan pos kamling. Orangnya kurus, biasanya pake jake hitam dan topi hitam”, kata Afdi menerangkan.
“Oke!”. Gaina berlari menuju tempat yang Afdi bilang. Tanpa ragu-ragu Gaina menyerahkan putaw itu pada orang yang cirri-cirinya sama seperti yang Afdi bilang. Lalu disimpannya oleh oranmg yang berbadan kurus itu di saku jaketnya. Lau ia pergi. Gaina pun kembali ke rumah afdi. Tapi ternyata rumah Afdi kosong. Tanpa berfikir panjang Gaina pulang ke rumahnya.
Gaina terbaring di kasur empuknya. Ia merenungi apa yang baru saja ia lakukan. Ia baru saja menjadi pengedar narkoba.
Keesokan paginya di sekolah Gaina mencari Afdi. Kata teman-teman Afdi hari ini ia tidak masuk. Katanya dipenjara karena mengedarkan narkoba. Gaina langsung berlari ke ruang BK meminta guru BK agar Afdi bisa keluar dari penjara. Akhirnya setelah 3 hari Afdi keluar dari penjara. “Makasih ya , Ga. Kamu dah bantu aku.”
“Harusnya aku yang gucapin terima kasih sama kamu. Karena kamu dah ngajarin aku kasih saying dan kesetiaan sebagai sahabat. Mata mereka sedikit bekaca-kaca. Mereka merasakan seperti keluar dari kegelapan.
Sekarang Afdi membuika privat gitar, karena ternyata ia jago dalam bermain gitar. Kadang-kadang Gaina, Risa dan Auzy minta diajari bermain gitar. Mereka berempat juga sering belajar bersama.sepertinya Risa dan Auzy naksir Afdi. Tapi sepertinta Afdi malah naksir Gaina. Tapi di dalam batin mereka persahabatan ini tidak akan hilang sampai kapanpun. Dan mereka hanya ingin menjadi sahabat yang selalu seia saat suka dan duka.
By: Sarah
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO
theproperty-developer
|